jump to navigation

Tentang Kami

Pada Juli 2007, sejumlah elemen masyarakat sipil berkumpul atas dasar keprihatinan terhadap belum tuntasnya krisis lumpur Lapindo. Bayangkan, 8 desa telah tenggelam dan 14.000 keluarga lebih telah kehilangan tempat tinggal. Rakyat masih tak terurus. Selain rumah, sawah dan tambak lenyap, mereka juga tak lagi memiliki pekerjaan, pendidikan anak-anak dan remaja tak menentu, kesehatan memburuk. Ribuan orang masih di pengungsian, menunggu nasib yang tak pasti.

Gabungan berbagai elemen masyarakat itu menamakan diri Gerakan Bersama Rakyat Korban Lapindo (Gebrak Lapindo). Ada tiga puluh elemen lebih pada waktu itu. Mereka adalah Paguyuban Rakyat Renokenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak), Uplink Simpul Porong, Desantara Institute for Cultural Studies Jakarta, Balai Rakyat Korban Lumpur Lapindo, Eureka Foundation, RIAK Jember, IRCAS Ponorogo, ICDHRE Jombang, PUSPeK Averroes Malang, POLMA Malang, C-Mars Surabaya, Dewan Kesenian Surabaya, Dewan Kesenian Blambangan, Songgolangit Kediri, Yayasan Tantular Malang, Pesantren Salafiyah Jember, Pesantren Roudlatul Ulum Jember,Paguyuban Warga Jatirejo Porong, Biro Pengembangan Masyarakat PP Anuqoyah Sumenep, Paguyuban Warga Strenkali Surabaya, Serikat Dosen Progresif Unair, Yayasan Sejahtera Bina Bangsa Makasar, Lafadl Initiatives Yogjakarta, Komite Perjuangan Rakyat Miskin Makasar, Komunitas Azan Pesantren Cipasung Tasikmalaya, Lapar Makasar, Wahid Institute Jakarta, P3M Jakarta, PKC Jatim dan PC PMII se-Jatim, Koordinator Wilayah 5 GMKI Jatim, Pesantren An Nur Surabaya, Pesantren Mutho’alimin Probolinggo, Komunitas Demokrasi (Komdek)Malang.

Sepanjang Juli-Agustus 2007, Gebrak Lapindo mengadakan kampanye keliling peggalangan dukungan, dari Banyuwangi, Malang, hingga Ponorogo. Kadang kampanye keliling ini diiringi dengan pertunjukan kesenian lokal. Agustus 2007, mereka menggelar gerakan kebudayaan di Pasar Baru Porong (silakan susur liputannya di blog ini). Berbagai kesenian rakyat digelar sebagai wahana protes terhadap ketidakadilan yang terjadi.

Pada perkembangannaya kemudian, oleh adanya situasi naik-turun yang masih sulit diduga arahnya, aliansi masyarakat sipil ini mengalami penyusutan dan pemekaran. Setelah melalui proses yang tidak sederhana, berbagai individu dan elemen Gebrak Lapindo yang masih aktif bergerak berupaya mengajak solidaritas lebih luas. Hingga akhirnya berlangsunglah sebuah pertemuan nasional gabungan antara elemen masyarakat sipil dan korban Lapindo pada 12-13 Juli 2008 di  Ciputat, selatan Jakarta.

Koalisi ini, yang dikenal dengan sebutan Koalisi untuk Keadilan Korban Lapindo, berupaya merancang agenda gerakan lebih sistematis. Lebih lanjut mengenai konsorsium ini lihat www.korbanlumpur.info.

Advertisements
%d bloggers like this: