jump to navigation

Korban Lumpur Lapindo Geruduk Istana December 3, 2008

Posted by gebraklapindo in Berita.
trackback

Rachmadin IsmaildetikNews. Aksi demonstrasi kembali meramaikan Jakarta. Kali ini, sekitar 1000 warga korban lumpur Lapindo akan melakukan aksi damai di depan Istana Negara, Jakarta.

“Kita akan mulai jam 07.00 WIB dari Istiqlal,” ujar Koordinator Aksi Warga Korban Lumpur Lapindo Wisnu saat dihubungi detikcom, Senin (1/12/2008).

Menurut Wisnu, agenda aksi tersebut adalah kembali menuntut pembayaran sisa ganti rugi warga. Berdasarkan Peraturan Presiden No 14 Tahun 2007, seharusnya warga menerima 80 persen sisa penggantian secepat mungkin.

“Kelihatannya pihak Lapindo tidak mau bayar tunai soalnya,” jelas Wisnu.

Namun Wisnu berjanji akan melakukan aksi damai saja. Pihaknya menjamin, aksi tidak akan berlangsung anarkis.

Selain itu, warga berencana untuk tinggal di Jakarta hingga 5 Desember. Warga akan kembali menyampaikan tuntutannya di beberapa lokasi berbeda.

“Hari ke-dua di Wisma Bakrie, lalu besoknya di Bunderan HI, terakhir di gedung Bursa Efek Indonesia,” kata Wisnu.(mad/mad)

Ribuan Korban Lapindo Kepung Istana

Andi Saputra – detikNews. Sekitar 1.080 korban lumpur Lapindo mengepung Jl Medan Merdeka Utara atau persis di depan Istana Merdeka. Aksi ini mendapat pengawalan ketat dari kepolisian dengan membentuk pagar betis di depan Istana.

Massa yang datang pukul 10.00 WIB, Selasa (2/12/2008), membawa spanduk besar bertuliskan ‘Pokoknya Cash and Carry 80 Persen Tunai Sebagai Tuntutan, Sisa Pembayaran Korban Luapan Lumpur Lapindo’ dan “Aku Jaluk Bukti, Dudu Janji’.

Mereka juga mengenakan kaos masing-masing bertuliskan RT di mana mereka tinggal. Kaosnya berwarna-warni berdasarkan kelurahan masing-masing.

Secara bergantian korban lumpur Lapindo juga berorasi menuntut pelaksanaan Perpres No 14/2007 soal ganti rugi korban lumpur Lapindo karena hingga 2 Desember belum ada pembayaran dari Lapindo.

“Kami hanya ingin cash and carry karena sudah ada aturan hukumnya,” kata jubir aksi Wisnu Adi K, warga Blok AB 13 Perumnas Kedung Bendo.

Aksi masih berlangsung sehingga menutup satu lajur jalan di depan Istana. Kendaraan hanya diberi dua lajur untuk melintas sehingga kemacetan mengular hingga gambir. Polisi masih bernegosiasi agar para demonstran berkumpul di depan pintu 6 Monas. “Agar tidak menyebabkan kemacetan,” kata Kapolsek Gambir Kompol M Kurniawan.

Massa hingga pukul 10.35 WIB masih bertahan di depan Istana. Rencananya mereka akan bertemu dengan pihak Istana.(nik/iy)

Korban Lapindo Tolak Negosisasi Ulang

Andi Saputra – detikNews. Warga korban lumpur Lapindo tetap bersikukuh untuk meminta pemerintah melunasi sisa pembayaran ganti rugi. Meskipun bos Lapindo dari keluarga Bakrie mengaku sulit memenuhi Perpres 14/2007 tersebut.

“Tidak ada negosiasi ulang, harus dibayar sekarang,” kata salah satu korban Lapindo, Wisnu Aji K, warga Blok AB 13, Kedungbendo, Sidoarjo, di depan Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, kepada wartawan, Selasa (2/12/2008).

Menurutnya, jika ada negosiasi ulang, warga khawatir akan dipermainkan dan tidak punya kepastian hukum. Karena kehawatiran tersebut, warga bersikukuh jika Perpres harus tetap dijalankan. “Dengan perpres itu maka tindakan kami punya payung hukum. Jika harus negosiasi ulang, siapa yang bisa menjamin,” ujarnya.

Sementara itu, 9 perwakilan warga  baru saja meluncur ke Kantor Departemen Pekerjaan Umum di Jalan Pattimura, Jakarta Selatan, karena Presiden SBY tidak bisa ditemui warga.

Menggunakan 2 mobil Kijang dan sebuah sedan, mereka meluncur menemui Djoko Kirmanto guna menagih janji pemerintah. Mereka antara lain Agung Sulaksono, Anang, Didi, Edwin, Amin, Sugiarto dan Wahyu. “Jangan ada negosisasi!” teriak puluhan warga lainnya.

Hingga saat ini, seribu korban lumpur tersebut bertahan di Jalan Medan Merdeka Utara. Mereka duduk di satu lajur jalan sehingga arus lalu lintas pun tersendat. Guna bisa menduduki jalan depan Istana ini, terjadi negosiasi yang cukup alot antara pihak demonstran dengan pihak kepolisian. (asp/nrl)

Lapindo Minta Korban Lumpur Bersabar

M. Rizal Maslan – detikNews. PT Minarak Lapindo Jaya menyatakan komitmennya dalam penyelesaian sisa pembayaran 80 persen kepada korban lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur. Korban lumpur diminta bersabar.

“Lapindo tetap bertanggung jawab. Saat ini sedang dilakukan perhitungan yang realistis berapa kemampuan kami,” kata Vice President PT Minarak Lapindo Jaya Andi Darussalam Tabusala kepada wartawan di Jakarta, Selasa (2/12/2008).

Menurut dia, PT Minarak Lapindo Jaya mengerti kesulitan masyarakat.

Namun demikian, lanjut Darussalam, Lapindo juga tidak pernah berharap terkena imbas dari krisis resesi global yang telah membuat perusahaan mengalami kesulitan likuiditas.

“Beri kami kesempatan untuk melakukan konsolidasi untuk menghitung kembali berapa kemampuan kami,” ujarnya.

Presiden SBY meminta agar Lapindo Brantas Inc untuk melunasi sisa pembayaran 80 persen kepada para korban lumpur.

Presiden SBY juga memerintahkan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto untuk memanggil Direktur Utama Lapindo, Nirwan Bakrie, ke Istana Presiden dua pekan lalu.

Dalam pertemuan itu, Presiden SBY meminta ketegasan Nirwan untuk melunasi sisa pembayaran 80 persen kepada para korban di empat desa yang tercantum dalam peta terdampak.

Nirwan berjanji menyelesaikannya pada akhir November 2008.

Djoko mengatakan, sisa pembayaran 80 persen yang harus dibayarkan Lapindo kepada para korban adalah sebesar Rp 60 miliar. Namun, sudah ada pembayaran secara mencicil yang dilakukan oleh Lapindo, sehingga saat ini masih tersisa Rp 49 miliar.(zal/aan)

Pemerintah Belum Sikapi Soal Lapindo yang Belum Bayar Ganti Rugi

Anwar Khumaini – detikNews. PT Minarak Lapindo kembali tidak menepati janji untuk membayar ganti rugi 80 persen yang
harusnya mereka bayarkan kepada korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Padahal, Presiden SBY telah meminta Lapindo untuk segera melunasi, dan pihak Lapindo bersedia membayar lunas pada hari Senin, 1 Desember.

Menanggapi masalah ini, pemerintah terkesan tidak tegas. “Saya belum bisa komentar soal itu,” ujar Mensesneg Hatta Rajasa usai mengikuti pembekalan kepada peserta kursus Lemhanas ke-42 oleh Presiden SBY di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (2/12/2008).

Hatta tetap meminta agar Perpres soal Lapindo harus tetap dijalankan. Sehingga masyarakat korban lumpur bisa memperoleh kepastian akan nasib mereka. “Harus ada juga pembicaraan,” imbuh pria berambut perak ini.

Presiden, lanjut Hatta, telah mendelegasikan kepada Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Mensos Bahtiar Chamsyah untuk melakukan penyelesaian tentang masalah ini dengan warga. “Tentu merujuk kepada perpres,” ujarnya.

Apakah akan ada jadwal ulang tentang pembayaran ganti rugi warga yang telat ini? “Itu kan bisa saja dibicarakan. Pasti ada jalan keluar sepanjang ada alasan,” tambahnya.

Apakah adil, rakyat harus bernegosiasi sendiri dengan Lapindo? “Di situ kan ada Pak Joko
(Menteri PU),” pungkasnya. (anw/gah)

Warga Harap Pembayaran Ganti Rugi Tidak Dicicil

Elvan Dany Sutrisno – detikNews. Usai berunjuk rasa, ratusan korban Lapindo kini kembali menginap di Masjid Istiqlal, Jakarta. Mereka bersikeras akan bertahan di Jakarta hingga tuntutannya dipenuhi.

“Hasilnya tidak menggembirakan. Belum ada kesepakatan. Masa malah mau dicicil, kita gak setuju dong. Kita akan terus bertahan,” ujar Oki Rahmadi (36) salah seorang korban Lapindo ketika berbincang dengan detikcom di teras Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (2/12/2008).

Oki ke Jakarta memboyong istri dan dua orang anaknya. Ia terpaksa membawa anaknya yang masih bemumur 8 dan 5 tahun, karena di Surabaya tak ada yang merawatnya.

“Saya tinggal di rumah mertua sejak rumah saya terendam. Sekarang saya sedih mas, pagi kehujanan, anak saya yang kecil sakit, masuk angin sampai muntah-muntah,” keluh Oki.

Tas dan Handphone Hilang

Tak tahan melihat anaknya sakit, Oki lalu mencoba menghibur anaknya dengan membawanya jalan-jalan ke Monas. Namun sayangnya tas berisi pakaian dan handphone malah ketinggalan di bajaj.

“Anak saya nangis. Saya cegat bajaj ke Monas. Tapi belum sampai masuk, ada instruksi suruh pulang ke masjid. Saat kembali ke masjid, saya lupa tas saya ketinggalan di bajaj. Nggak dikembaliin. Itu ada baju, ada peralatan istri saya, sama handphone,” keluhnya sedih.

Nasib sedih juga dialami Khoirul Iksan. Sejak perusahaan pipa tempatnya bekerja ikut terendam lumpur, dia terpaksa bekerja serabutan.

“Kalau secara materil, okelah kalau dipenuhi kita impas. Tetapi yang tak tergantikan immateriilnya. Mata pencaharian kita, masa depan anak-anak, kan susah itu. malah 60 orang sakit jiwa, sekarang dirawat di RS Menur,” ungkapnya.

Selain menginap di Masjid Istiqlal, ratusan korban lumpur lainnya juga menginap di Sekretariat Kontras dan LBH. Mereka terpaksa tidur di lantai dengan beralas koran. (gun/asy)

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: