jump to navigation

Warga Keluhkan Luberan Air Lumpur Lapindo November 15, 2008

Posted by gebraklapindo in Berita.
trackback

– Peninggian Tanggul Terhenti akibat Blokade Warga Renokenongo

SIDOARJO, KOMPAS – Warga RT 4 RW 1, Desa Glagaharum, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengeluhkan air lumpur Lapindo yang menggenangi permukiman mereka sejak Jumat (14/11) pukul 01.00. Genangan tersebut terjadi akibat terhentinya peninggian tanggul kolam penampung lumpur pada titik 42, sehingga ketika hujan turun pada Kamis lalu air yang masuk ke kolam itu meluber.

Di RT 4, Desa Glagaharum, terdapat sekitar 200 rumah yang berada di sekitar tanggul kolam lumpur titik 42. Sekitar 10 rumah yang berbatasan langsung dengan tanggul kemarin tergenang air lumpur setinggi 20 sentimeter.

Air dari kolam penampungan lumpur Lapindo itu bahkan ada yang masuk ke dalam beberapa rumah warga. Karena itu, warga terpaksa mengamankan sejumlah perabotan rumah tangga mereka ke lokasi yang dinilai aman.

Sukardi (55), warga Glagaharum, mengatakan, hujan yang turun Kamis malam lalu mengakibatkan kolam penampungan lumpur digenangi air cukup banyak. ”Permukaan air lumpur yang sebelumnya sejajar dengan tanggul kemudian meluber dan menggenangi permukiman warga yang tinggal di sekitar tanggul,” tuturnya.

”Kami mengira air yang luber itu disebabkan tanggul jebol, apalagi hal itu terjadi mendadak. Saluran air di depan rumah kami perdalam untuk mengurangi genangan air,” kata Sukardi.

Merembes

Menanggapi keluhan warga Glagaharum, Kepala Humas Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BPLS) Achmad Zulkarnain mengatakan, selain akibat hujan, genangan air lumpur tersebut timbul akibat air di kolam lumpur merembes, menembus tanggul yang terbuat dari campuran tanah dan bebatuan.

”Apalagi peninggian tanggul terhenti akibat blokade warga Desa Renokenongo yang menuntut pembayaran uang muka ganti rugi sebesar 20 persen,” kata Zulkarnain.

”Kami berencana akan membuat saluran air atau drainase di bawah tanggul yang rawan luber agar jika sewaktu-waktu air meluber tidak menggenangi permukiman warga,” ujarnya menambahkan.

BPLS, lanjut Zulkarnain, sebenarnya sudah mengantisipasi timbulnya luberan air lumpur pada tanggul titik 42 dengan menggunakan pompa penyedot air. Dengan tujuh mesin pemompa, katanya, air itu sebagian dialirkan ke tanggul kolam penampungan lumpur utama untuk mencairkan lumpur. ”Sebagian lagi dialirkan ke Sungai Porong,” katanya.

Pengamatan Kompas, peninggian tanggul di kolam titik 42 terhenti sejak Jumat lalu. Di kawasan itu, warga Desa Renokenongo membangun tenda dan menanam pohon pisang pada tanggul. Akibatnya, alat berat yang biasa digunakan untuk peninggian tanggul kolam penampungan lumpur tidak bisa masuk ke kawasan tersebut. (APO)

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: