jump to navigation

KEGANJILAN DI SEPUTAR LUAPAN LUMPUR LAPINDO August 6, 2007

Posted by gebraklapindo in Laporan Lapangan.
trackback

1.      Awal Mula Negosiasi Pembebasan Tanah

Tidak ada sosialisasi dan transparansi mengenai rencana eksplorasi Gas oleh PT Lapindo Brantas Inc. Sosialisasi pembebasan tanah dilakukan oleh aparat desa (Bu Kades Renokenongo) dengan peruntukkan sebagai gudang peralatan berat.

Negosiasi pembebasan tanah dilakukan oleh warga pemilik dengan aparat desa (renokenongo) sedangkan PT Lapindo sebagai pembeli tidak pernah menampakkan diri.  Bahkan pembayaran oleh aparat desa dengan kwitansi tanpa tanda pengenal pembeli (Lapindo).

Pendirian eksplorasi gas lapindo menyalahi Undang-Undang Lingkungan (didirikan dekat dengan perkampungan dan fasilitas umum) dan tidak ada AMDAL.

 

2.      Awal Mula Bencana

Sejak letusan pertama tidak ada tanda bahaya yang memperingatkan masyarakat sekitar sumur. 

Sosialisasi dilakukan Lapindo yang menyesatkan karena menyampaikan tidak akan ada bahaya dari luapan lumpur yang terjadi.

3.      Keamanan dan Penanggulangan Bencana

Keamanan langsung ditangan TNI, walau bukan daerah konflik dan bukan fasilitas penting negara tetapi penjagaan oleh TNI relatif ketat. 

Lapindo sangat siap dan segera dapat bertindak dengan cepat dalam menangani dampak2 sosial yang terjadi akibat luapan lumpur.

Penanggulangan luapan lumpur dilakukan oleh 18 kontraktor dibawah koordinasi Yon Zipur V Malang dan bukan oleh kontraktor atau lembaga profesional.

Proses penanggulan dan berbagai tindakan penanggulangan tanpa proses sosialisasi apalagi negosiasi dengan warga korban dan pemilik lahan.

Sosialisasi dan Informasi

Selalu digembar gemborkan (melalui media massa dan juga oleh para pakar) mengenai lumpur yang tidak berbahaya dan bahkan dapat menyuburkan tanah.

Tidak tersampaikannya dengan lengkap dan cukup (disensor atau ditunda) berita2 dan informasi2 penting yang ada di lapangan.

Pernyataan2 pejabat setempat dan bahkan pusat yang berpihak pada Lapindo bukan pada masyarakat korban.

Maslah kerugian fasilitas umum lebih dominan dibahas ketimbanga kerugian masyarakat secara langsung dan kerusakan lingkungan.

 

<!-

5.      Penanganan Pengungsi

Diserahkan pada Satla Kab. Sidoarjo dengan operator lapangan TNI.

Sulitnya organsisasi2 relawan dan kemanusiaan ikut bekerja membantu menangani pengungsi.  Koordinasi dan pengawasan oleh Posko Terpadu yang ketat dan birokratif.

Penanganan pengungsi tanpa skala prioritas dan ketepatan sasaran.  Contoh, pemberian makanan berupa nasi bungkus (yang tidak matang) + air minum dengan hitung kepala tanpa membagi dalam klasifikasi usia sehingga bayipun diperlakukan sama dengan orang dewasa.

Pengawasan yang ketat oleh Satlak maupun TNI terhadap aktifitas berbagai organisasi dan media massa yang terkait dengan pengungsi.

6.      Ganti Rugi

Jaminana hidup yang terlambat diberikan bahkan dengan pengurusan yang relatif sulit.

Uang kontrak rumah untuk relokasi sementara dibebani klausul2 yang meringankan Lapindo dan Satlak. Contoh Klausul Kontrak:

<!-1)      Kerusakan rumah (yang tenggelam) selama relokasi ditanggung oleh pemilik.

Padahal penanggulangan disekitar pemukiman penduduk terus dilakukan, khususnya untuk menyelamatkan Rel KA dan Jalan Tol.

      2)      Tidak boleh menuntut Lapindo dalam bentuk apapun baik pidana maupun perdata.

Saat ini telah berhasil direvisi berkat perjuangan saudara2 masyarakat RT 20 Dusun Balongnongo Desa Renokenongo.

Belum ada pembicaraan mengenai ganti rugi (nilai maupun klasifikasi) telah disosialisasikan mengenai rencana relokasi (sabtu 07 oktober 2006 di Pendopo Kab. Sidoarjo) yang secara ekonomi, sosial dan budaya sulit diterima oleh masyarakat.

  7.      Kerja Timnas Penanggulangan Luapan Lumpur

Lebih berkonsenrtasi untuk sosialisasi membuang lumpur ke laut.  Lembaga advokasi lingkungan (Walhi salah satunya) ditolak dan diharamkan oleh warga korban secara sistematis.

Lebih mementingkan menyelamatkan Fasilitas Umum (Rel KA dan Jalan Tol) ketimbang memikirkan masalah pengungsi.

 

Seklilas data dan Fakta (per 09 Oktober 2006)

1. Mud Volcano (lumpur panas lapindo)

Merupakan hasil sedimentasi yang naik ke atas (permukaan bumi) dari kedalaman 3000 – 4000 meter di bawah tanah.

Di seluruh dunia kurang lebih telah terjadi sebanyak 700 kasus dengan 300 kasus terjadi di Azerbaijan, merupakan tanda2 adanya kandungan minyak bumi yang tinggi.  Kasus terbesar (Azerbaijan) mencapai luasan dengan diameter 10km dan membentuk gunung baru.

Kasus Porong menjadi luar biasa karena terjadi di daerah pemukiman dan industri.

Luapan lumpur akan berhenti dengan sendirinya saat tekanan udara yang ada di perut bumi dengan yang ada di permukaan bumi sama, dan tidak bisa dihentikan secara teknis.

Saat ini setiap harinya mengeluarkan material (lumpur dan air) sebanyak 126.000m3 perhari.

  

2.  Korban  

1) Perusahaan dan UKM yang tutup

27 perusahaan tutup, 40 UKM tutup, 1.700 buruh menganggur, 241ha sawah produktif hancur, 1.810 rumah penduduk tenggelam dengan kerugian material diperkirakan sebesar Rp3trilyun, dan masih akan bertambah.

 

2) Dampak lingkungan

*  Topografi

Perubahan wilayah dari wilayah persawahan dan pemukiman akan menjadi danau lumpur.

 

*  Penurunan tanah

Telah turun sedalam 1 meter dan terus menurun dengan percepatan 1,5cm perhari.

 

*  Luapan lumpur

Material (lumpur dan air) yang dikeluarkan sebesar 126.000m3 perhari, dan tinggi semburan mencapai 15m dari atas permukaan tanah.

 

* Rencana pembuangan lumpur ke laut melalui sungai porong

Menyebar lumpur ke selat madura dengan akibat air bertambah beruh dan adanya sedimentasi sehingga merusak ekosistem pesisir dan laut di selat madura.

 

Catatan:

  1. Pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas Inc. Pelanggaran terhadap Undang-Undang Lingkungan
  2. UU No. 22 tahun 2001 menyatakan bahwa tanggung jawab pengeboran ada pada BP Migas.

 

Mengapa tidak ada tindakan hukum sama sekali?????

Advertisements

Comments»

1. Tonas - December 12, 2007

Itulah INDONESIA…..

2. I Nyoman Sukarta - December 13, 2007

Sudahlah, kembalilah ke jalan yang benar.
Tradisi-tradisi yang dulu sering dilakukan oleh orang Kejawen tidak pernah dilakukan lagi. Ya beginilah hasilnya. Orang sudah tidak menghargai alam sekitarnya. Ingat, alam itu punya nyawa, Bung. Bisa berontak, bisa marah. Masih ingat ada Tsunami? Itu alam murni, Bro, bukan buatan manusia, tapi karena tidak pernah ada persembahan kepada alam. Dulu iya, sekarang?

3. niken rosady - January 21, 2008

seharusnya PT. Lapindo bertanggung jawab secara penuh atas korban LAPINDO.. baik bencana ini dijadikan sebagai bencana nasional maupun tidak..

tak apa jika pemerintah yang turun tangan untuk relokasi para korban, namun semua pendanaan atas relokasi dan rehabilitasi para korban seharusnya LAPINDO yang menanggung..

ABU RIZAL.. seharusnya sesekali berpikir dengan hati nurani bukan dengan jiwa bisnisnya..

4. rizem az - March 31, 2008

mungkin beragam bencana alam yang menimpa indonesia adalah murka Tuhan…?

5. linda - May 15, 2008

Indonesia lelet n lemot. Nunggu Indonesia jadi laut baru lapindo di tindak?
Lapindo Apatis

6. sego pecel - May 29, 2008

ngomongin lapindo, jadi ingat mukanya bakrie..
sering ketawa sendiri kalo ngelihat mukanya bakrie, lucuu…!!
mirip-mirip setengah tikus setengah monyet trus di kawin silang sama anjing pudel…!!
wakakakakakakakakk….!!!!!

7. Nabilla Khairunnisa mansoor - March 19, 2009

Seharusnya…PT Lapindo itu bertanggung jawab.
Masaaa….Tidak menampakan diri sihhh….
Gak..Bertanggung jawab sekaliiii…..
Sebelllll…..Dechh akuuu….

8. Diahpuspitasari - March 19, 2009

Lumpur lapindo itu……
Gneriii yahhh…..
Sampe ke atap rumah gitu dehh……
Pasti banyak orang yang matiiii….Karena panasssnya lumpur ituu….
Juga PT Lapindo gak bertanggung jawwwabbb…..

9. rakyat - June 17, 2009

Ya Allah ……
bukakanlah mata hati Pejabat yg tidak bermoral ini.
Mungkin didunia ini Peradilan bisa ‘mreka’ beli …
tapi ada Peradilan yg benar” adil , smoga Pejabat” yg tidak punya rasa malu ini mendapat laknat_NYA.

Wahai para pejabat bejad ….
Ingatlah … doa yg cepat terijabah oleh_NYA,
adalah … doa dari orang” yg teraniaya.

10. ibu yuli - September 28, 2009

mohon maaf, comment ini tidak ada hubungannya dengan judul postingan.
apakah ada warga korban lapindo yang membutuhkan pekerjaan, saya sedang mencari pembantu rumah tangga(menginap) wanita,islam, usia antara 17 th-35 th, saya tinggal di Sidoarjo. Terimakasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: